Drama Tes TBC Di Belanda

Jadi salah satu persyaratan saat mengajukan visa MVV (visa tinggal di Belanda), kita harus menyetujui kalau bakal ada pengecekan kesehatan berupa tes TBC di Belanda. Nah setelah pindah, saya melakukan tes TBC ini dengan cara tes rontgen dada setiap 6 bulan. Tes ini dilakukan selama 2 tahun. Kita akan dapat undangan dari GGD untuk kapan tes TBC.

Rontgen dada ini bener2 telanjang dada ya, jadi ga seperti di Indonesia yang pakai baju penutup. Kita akan dikasi jepit rambut dan disuruh berdiri di depan papan rontgennya. Selebihnya akan dikasi instruksi kapan harus tarik napas dalam dan selesai. Untuk GGD Utrecht, saat pertama kali Tes TBC, saya harus bayar 46 euro. Ini tentunya berbeda di tiap GGD. Ada yang juga gratis.

Tes Kulit TBC

Nah setelah 2 tahun tinggal di Belanda, saya dapat lagi surat undangan Tes TBC di GGD. Tapi kali ini saya lihat tesnya bukan tes rontgen tapi tes kulit atau yang biasa juga disebut tes mantoux atau tes tuberkulin. Dalam surat dibilang kalau setelah tes ini, tidak akan ada lagi tes TBC berupa tes rontgen lagi dan pemeriksaan TBC sebagai syarat ijin tinggal dianggap selesai. Selain surat undangan, saya pun dapat formulir yang harus diisi berupa biodata saya dan juga informasi apakah pernah vaksin BCG, pernah terkena TBC sebelumnya, dll yang berkaitan dengan kesehatan kita.

Di Hari H, saya pergi ke GGD dan ditanya apakah pernah vaksin BCG. Ibu saya pernah bilang kalau saya sudah divaksin BCG, jadi saya bilang iya. Nah perawat cek lengan atas saya untuk mencari bekas luka, tapi ga ketemu. Dia sampai menanyakan kembali apa benar saya sudah tes BCG, karena tidak ada codet di lengan. Saya yang tadinya jawab iya jadi agak ragu karena toh bisa aja ibuku lupa karena ga punya buku vaksin. Tapi tetep aja kujawab iya (walaupun dalam hati ragu kok saya ga punya bekas luka di lengan).

Saya juga ditanya apakah ada takut jarum suntik. Saya yang tidak takut jarum tentunya PD aja. Tapi saya lupa kalau tes ini bukan suntik vaksin atau ambil darah yang jarum masuk dalam. Ini suntik di bawah kulit yang rasanya agak pedih.

Jadi saat di tes, di lengan kiri bawah saya akan di suntikkan cairan tuberkulin di bawah kulit. Perawatnya memberi saya surat untuk dibawa lagi lusanya. Karena mereka akan cek bagaimana reaksi tuberkulin ini setelah 2 hari kemudian.

2 Hari Kemudian

Setelah 2 hari kemudian, saya kembali ke GGD dan memang merasa ada benjolan di bekas suntikan. Benjolan seperti bekas digigit serangga jadi agak kemerahan. Saat di GGD, benjolan di lengan saya pun dicek panjangnya menggunakan penggaris. Tak disangga perawat langsung memanggil perawat yang lain dan perawat inipun mengukur benjolan di tangan saya bahkan memberi tanda dengan pulpen.

Kalau dipegang kerasa ada benjolan walaupun dilihat kurang jelas

Mereka pun berdiskusi dan akhirnya memanggil perawat ketiga yang juga mengukur benjolan di tangan saya. Setelah itu mereka berbicara:

Perawat pertama: Saya rasa 9 mm

Perawat kedua: Saya ukur 10 mm. Kalau kamu gimana? (ke perawat ketiga)

Perawat ketiga: 11 mm. Berarti iya.

Perawat ketigapun menjelaskan kalau hasilnya diatas batas normal dan mereka bilang kalau saya harus tes darah IGRA untuk mengetahui apakah benar saya positif TBC. Saya pun menyetujui dan mereka mengambil darah saya di 4 tabung yang berbeda. Mereka bilang hasil akan dikirim ke rumah dalam waktu 2 minggu.

Saya tanya ke perawat kenapa kira-kira hasil saya bisa positif padahal saya tidak pernah TBC. Perawatnya bilang mungkin karena saya pernah divaksin jadi makanya saya punya antibodi terhadap TBC.

Perasaan saya campur aduk karena saya tidak pernah kena TBC dan keluarga inti saya juga tidak ada yang kena TBC. Tapi kok kalo dari vaksin, saya sendiri ga punya bekas luka hasil vaksin. Hasil tes ini bikin pikiran saya ga karuan. Bahkan di dalam kereta perjalanan pulang ke rumah dari GGD, saya menitikkan air mata yang saya basuh pakai masker (di kereta wajib pakai masker sebagai salah satu peraturan terkait Covid19).

Menunggu Hasil Tes Darah IGRA

Setelah sekitar 2,5 minggu dari tes darah, saya belum juga menerima surat hasil laboratorium. Saya deg-degan sampai akhirnya memutuskan meminta Adrian untuk menelpon langsung ke GGD. Kenapa harus Adrian yang menelpon? Karena saya terlalu takut mendengar hasilnya. Kalau Adrian menerima hasil dan memang saya diharuskan untuk tes lanjutan ataupun menjalani pengobatan, setidaknya Adrian bisa memberi tahu ke saya pakai perasaan alias memberi tahu saya dengan pilihan kata-kata yang membuat saya tidak shock.

Ketika Adrian menelpon, dia sengaja menelpon jauh dari saya. Tapi tetep aja saya curi-curi dengar. Yang sempet saya dengar “Surat apa?”, “Tidak, kami belum terima hasilnya”, “Bisa coba di cek kan di sistem?”. Lalu setelah itu saya dengar Adrian bilang terima kasih di telpon. Adrian memanggil saya dan bilang kalau hasil negatif TBC berdasarkan tes darah. Yang artinya saya tidak TBC.

Ya ampun ini bikin drama banget sih hasil tes kulit. Kebayang gimana rasanya jadi orang yang sehat ga ada apa-apa tau-tau hasil tes kulit positif. Saya mikir gimana kalau saya menulari yang lain dan saya baca pengobatannya 6 bulan tanpa putus. Hari-hari saya isi dengan googling tentang TBC. Bener-bener deh kalau kita parno dan googling, malah tambah parno. Tapi saya lega kalau saya bebas TBC dan pemeriksaan TBC di Belanda dinyatakan sudah selesai.

Advertisement

2 thoughts on “Drama Tes TBC Di Belanda

Please Feel Free to Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s